PENTINGNYA MENJAGA PERDAMAIAN

PENTINGNYA MENJAGA PERDAMAIAN

Kita mungkin hidup dalam suasana dan lingkungan yang relatif aman dan stabil. Di Indonesia, walau terkadang terjadi perbedaan pandangan politik, walau terdapat usaha-usaha yang dilakukan pihak tertentu, untuk memecah belah persatuan, aparat dan TNI-POLRI masih mampu menanganinya. Namun sayangnya tidak semua warga negara di dunia ini mendapatkan hak yang sama. Ada sebuah ungkapan yang dikampanyekan oleh Kampanye Internasional Amnesty, bunyinya “It’s not happening here, it’s happening now”, artinya peperangan itu mungkin tidak terjadi disini, tapi peperangan itu terjadi sekarang di belahan bumi yang lain.

Kadang-kadang sangat mengherankan bahwa setelah ribuan tahun bergelut dalam peperangan, manusia masih di titik ini, berperang. Karena perbedaan pandangan, perbedaan politik, perbedaan kepercayaan, harta, kekuasaan, wilayah jajahan, dan lain sebagainya. Tapi saya rasa itu merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kemanusiaan kita, melawan dan memperjuangkan hal-hal yang berbeda dengan diri kita. Pergulatan yang mungkin akan terjadi hingga akhir zaman.

Dalam sebuah artikel yang menyoroti tentang pengungsi Internasional di Indonesia, secara mengejutkan saya baru tahu bahwa ada sekitar empat belas ribu orang di Indonesia yang berstatus pengungsi dan pencari suaka. Walau Indonesia tidak jadi bagian dalam Konvensi Pengungsi 1951 yang diusung oleh United Nations Human Commisioner for Refugees (UNHCR).

Adella Anna Pratiwi, seorang mantan staf asisten registrasi pada UNHCR Indonesia menuturkan pengalamannya selama menjadi staf registrasi. Pernah suatu hari ia menanyai salah seorang pengungsi pencari suaka tentang keadaannya. Orang tersebut menjawab, bahwa jika bukan karena peperangan yang berlangsung di negaranya, atau jika kondisi di negaranya tidak seburuk ini, mungkin ia tidak akan menghabiskan waktunya barang sedetikpun di Indonesia.

Dapat dipahami, siapakah yang mau meninggalkan sebuah negara yang ia sebut rumah? Seburuk apapun negara kita, jikalau itu tidak membahayakan, tentu kita ingin tetap tinggal dan merawatnya. Sebentuk cinta terhadap tanah air. Namun sayangnya, tidak semua orang di dunia ini memiliki keistimewaan itu.

Ambil contoh lain pengungsi Syria, terhitung sekarang lebih dari sebelas juta penduduk meninggalkan rumahnya untuk mengungsi, dengan empat koma delapan juta mengungsi ke luar negeri seperti Turki, Lebanon, Yordania, Mesir, dan Irak sejak peperangan pecah enam tahun silam. Angka yang sangatlah besar, dan menjadi rekor terbesar sepanjang sejarah, mengalahkan jumlah pengungsi genosida Rwanda pada tahun 1994.

Jumlah pengungsi yang terus meningkat dari waktu ke waktu, pertikaian yang terjadi di banyak penjuru dunia menunjukkan betapa masih salahnya kita, umat manusia. Benarkah kita memperjuangkan kebenaran? Benarkah kita memperjuangkan kebaikan? Benarkah kita memperjuangkan cinta kasih? Atau sebaliknya, semua pertikaian itu menunjukkan ketidakmampuan kita sebagai manusia, untuk mengontrol ego kita. Untuk mengontrol nafsu kita.

Dalam sebuah catatan yang ditulis oleh Anne Frank pada periode perang dunia kedua, dalam the Diary of a Young Girl, sebelum ia akhirnya meninggal karena sakit di Camp Konsentrasi, ia mengatakan “Apa sebenarnya fungsi dari peperangan? Kenapa orang-orang tidak bisa hidup damai bersama? Kenapa ada semua penghancuran ini?”

Mungkin pertanyaan itu belum terjawab oleh generasi kita hingga sekarang. “Kenapa ada peperangan? Kenapa kita tidak bisa hidup dalam damai?” Pertanyaan tersebut ada baiknya untuk kita renungkan. Ada baiknya kita mengurangi sikap egosentris, dan mulai berpikir apa hal-hal positif yang bisa kita lakukan untuk membuat negara kita tempat yang lebih baik untuk ditinggali.

Sumber:
“Learning about Life, resilience from refugees”, The Jakarta Post, Adella Anna Pratiwi
Syrianrefugees.eu
en.wikipedia.org/wiki/The_Diary_of_a_Young_Girl

Temukan kami di

Kontak Kami

Email. beliuntukberbagi@gmail.com

JOIN PARTNERS

Anda merupakan salah satu komunitas sosial/lembaga sosial atau pemilik produk yang memiliki nilai jual? Join yuk bersama kami, berjuang dalam menumbuhkan pendidikan bagi anak putus sekolah, anak jalanan, komunitas marginal, dan pendidikan non formal lainnya.

Beli Untuk Berbagi 2018