TUMBUH DEWASA DI TENGAH MILENIALISME

TUMBUH DEWASA DI TENGAH MILENIALISME

Kehidupan dewasa nyatanya tak semudah yang dilihat. Dulu waktu kita kecil, seringkali kita mengasosiasi tumbuh dewasa dengan kebebasan. Kamu mampu pergi kemana saja, kamu mampu membeli apa saja, kamu bisa jadi apapun yang kamu mau. Tak ada larangan orang tua, kamu bebas bertindak sesuai dengan kehendakmu. Kenyataannya tumbuh dewasa tak semudah itu.

Sebagai kaum dewasa awal yang hidup di era milenial, pertanyaan-pertanyaan beranjak dewasa tak sesederhana kapan menikah, karier apa yang ingin ditempuh, usaha apa yang ingin dibangun. Seiring dengan berkembangnya media sosial, kita seakan terus menerus dihantui pertanyaan “eh si anu berlibur ke Maldives, kamu ke mana?”, atau “eh si anu beli mobil baru, kamu kapan?”, hingga “eh si anu dekorasi rumahnya seperti di pinterest, kamu gimana?”

Tak khayal, sebagai kaum dewasa awal yang hidup di era milenialisme, kami jadi gaguk. Ah tak keren jika tak makan seminggu sekali di restoran anu. Ah ga gaya kalau tak seminggu sekali nongkrong di kafe itu. Atau ah, mungkin sudah harus beli gadget baru supaya hasil foto nya bisa se keren si itu. Pikiran kita seakan terdistraksi secara terus menerus. Mulai dari keharusan punya hubungan yang bagai #realtionshipgoals hingga punya pertemanan ala #girlsquad.

Tapi jika kita sungguh-sungguh tilik, apakah itu semua penting? Pentingkah memenuhi semua “tuntutan-tuntutan” sosial yang seakan tak ada habisnya.

Mungkin ada baiknya kita duduk sebentar. Berpikir dan menilik tentang apa yang kita lakukan sehari-hari. Pentingkah mengejar semata-mata kepuasaan seperti mampu membeli mobil empat roda, ketika bahkan rumah saja belom punya, hanya agar dicap anak kekinian dan mampu antar jemput gebetan naik mobil? Pentingkah bersusah-susah mengirit makan seminggu, agar bisa ngafe seminggu sekali di kafe yang terkenal itu. Atau pentingkah untuk selalu beli baju brand-brand kenamaan, hanya karena “kan lagi nge-hits.”

Perlu kita sadari sebagai generasi muda yang hidup di zaman serba distraksi, bahwa kenyamanan dalam genggaman tak lagi sama dengan kebebasan. Karena toh kenyataannya bukanlah kita yang memanfaatkan gadget, tapi kita yang termanfaatkan gadget. Media sosial terus-menerus mendorong kita untuk satu kebutuhan, konsumsi dan konsumsi lagi.

Adakalanya kita butuh rehat. Buka lagi buku catatan mu, kenali lagi mimpimu. Ingat-ingat mimpi-mimpi apa yang kamu miliki dulu, cita-cita apa yang tertunda untuk diraih. Barangkali semua itu sudah banyak terkubur karena kita terlalu sibuk meng-scroll lini masa media sosial kita, dan terus menerus berpikir, “pergi kemana weekend ini, nongkrong dimana sore ini.” Jangan lupakan dirimu. Ya tumbuh dewasa di era sekarang memang tak mudah, tapi tak mudah lagi untuk bangun di suatu pagi dan menyadari bahwa kita sudah membiarkan diri kita tergerus oleh satu persatu hasrat yang digembar gemborkan di dunia maya, “konsumsi, beli, belanja, lalu ulangi.”

Temukan kami di

Kontak Kami

Email. beliuntukberbagi@gmail.com

JOIN PARTNERS

Anda merupakan salah satu komunitas sosial/lembaga sosial atau pemilik produk yang memiliki nilai jual? Join yuk bersama kami, berjuang dalam menumbuhkan pendidikan bagi anak putus sekolah, anak jalanan, komunitas marginal, dan pendidikan non formal lainnya.

Beli Untuk Berbagi 2018